Monday, May 30, 2016

LAPORAN PRAKTIKUM ILMU HIJAUAN MAKANAN TERNAK



LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HIJAUAN MAKANAN TERNAK
Acara Herbarium




Disusun oleh:
Kelompok XI

Miftachul Huda
Fitria Febriansyah
Veronika Yusvita
Anggun Nurul Arifiana
Muhammad Setio Budi

13/346272/PT/06484
14/362619/PT/06661
14/368238/PT/06849
14/368273/PT/06864
14/368301/PT/06865

Asisten Pendamping: Aditya Bayu Pratama


LABORATORIUM HIJAUAN MAKANAN TERNAK DAN PASTURA
DEPARTEMEN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016

BAB I
HERBARIUM

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Herbarium
Herbarium berasal dari kata “hortus” dan “botanicus”. Hortus dan botanicus adalah  kebun botani yang dikeringkan secara sederhana. Herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya disusun berdasarkan sistem klasifikasi. Manfaat herbarium adalah untuk pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan, material peraga pelajaran botani, material penelitian, alat pembantu identifikasi tanaman, material pertukaran antar herbarium diseluruh dunia, bukti keanekaragaman (Sama, 2009).
Herbarium adalah suatu bahan yang digunakan untuk studi taksonomi yang berupa tumbuhan segar yang masih hidup, tetapi biasanya berupa bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan dengan metode tertentu. Wibowo dan Abdulah (2007) menyatakan bahwa herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan melalui metode tertentu. Herbarium biasanya dilengkapi dengan data-data mengenai tumbuhan yang diawetkan, baik data taksonomi, morfologi, ekologi, maupun geografinya. Selain itu dalam herbarium juga memuat waktu dan nama pengkoleksi. Bebbera et al., (2010) menyatakan bahwa herbarium juga bermanfaat untuk mengumpulkan, mengakui, menggambarkan, dan menyimpan penemuan spesies tanaman baru dengan menggunakan data kuantitatif.
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor pada tahun 1700 untuk tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini pada tahun 1490 sampai 1550 seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadanil, 2004).
Manfaat Herbarium
Herbarium berguna sebagai penyedia data asli dari suatu tanaman yang telah diidentifikasi atau bisa juga disebut museum tanaman. Herbarium penting untuk mempelajari taksonomi tumbuhan, mempelajari distribusi geografisnya dan stabilitas nomenclatusnya. Peneliti tidak hanya menyimpannya, tetapi juga meneliti tanaman tersebut, yang biasanya digunakan untuk materi referensi dalam menyusun taksonomi (Sutrisna et al., 1998).
Cara Pembuatan Herbarium
Pembuatan herbarium dimulai dengan mengumpulkan material herbarium yang diambil, terutama identifikasi dan dokumentasi. Identifikasi tanaman diperlukan ranting, daun, kuncup, kadang-kadang bunga dan buah dalam satu kesatuan. Material herbarium yang lengkap mengandung ranting daun muda dan tua, kuncup bunga, bunga tua dan muda yang sudah mekar, serta buah muda dan tua, material herbarium dengan bunga dan buah disebut herbarium fertil, sedangkan material herbarium tanpa bunga dan biji disebut material herbarium yang steril. Material herbarium harus lengkap, perlu diperhatikan pula pada saat pengambilan material herbarium harus dilakukan pula pencatatan data tumbuhannya, terutama karakteristik atau sifat yang hilang jika material tersebut diawetkan. Material herbarium tanpa catatan tumbuhan dianggap tidak berguna. Pengawetan dan pencatatan data tumbuhan dengan menggunakan buku catatan atau blangko isian (Rugayah et al., 2004).     
Herbarium dibagi menjadi dua, yaitu herbarium basah dan herbarium kering. Herbarium basah, setelah material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material herbarium tersebut ditumpuk satu diatas lainnya. Tumpukkan tersebut dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disiram alcohol 70 % atau spiritus hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara merata, kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter supaya alkohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong plastik (Onrizal, 2005). Herbarium kering, pengeringan dilakukan dengan melalui 2 proses, yaitu pengeringan langsung dan pengeringan secara bertahap. Pengeringan langsung dilakukan dengan tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal dipres di dalam sasak, kemudian dilurungkan di atas tungku pengeringan dengan panas yang diatur dalam oven (suhu 80°C selama 48 jam), pengeringan harus dilakukan segera agar material herbarium tidak rontok dan daunnya menjadi busuk. Pengeringan secara bertahap, yakni material dicelup  di dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan dan dimasukkan ke dalam lipatan kertas koran, selanjutnya ditumpuk dan dipres, dan dijemur di atas tungku pengeringan. Material herbarium yang telah kering kemudian ditata dan diganti alas kertas yang baru dan diberi etiket gantung (Sutrisna et al., 1998).




MATERI DAN METODE

Materi
            Alat. Alat yang digunakan pada praktikum herbarium adalah Bambu (panjang 1 m dan lebar 5 cm) 8 buah, lakban, solasi bening, tali rafia, gunting, kertas koran, sabit, steples, spidol board maker, kamera, etiket tempel dan gantung, pensil, kertas herbarium, dan plastik kaca
Bahan. Bahan yang digunakan pada acara praktikum herbarium adalah tanaman legum, yaitu Pueraria Triloba dengan bagian-bagiannya yang lengkap, yaitu akar, batang, daun, bunga, dan buah atau biji. 

Metode
Metode yang digunakan dalam praktikum herbarium adalah dengan metode kering. Tanaman yang digunakan berupa tanaman legum yaitu Pueraria triloba, diambil dari lahan Hijauan Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Bagian tanaman yang diambil lengkap yakni mengandung akar, batang, daun, dan bunga. Herbarium dikeringkan dan diatur dalam kertas yang kasar dan kering yang dapat menyerap air yaitu berupa kertas koran. Kertas koran disusun berlapis-lapis (7 lapis bagian bawah dan 7 lapis bagian atas mengapit tanaman) kemudian ditekan mengunakan bambu dengan cara megikatkan tali rafia ditepi-tepi kertas. Selanjutnya tanaman Pueraria triloba dibiarkan sampai kering selama dua minggu.
Tanaman Pueraria triloba setelah dua minggu diambil dan dibuka pembungkus korannya. Tanaman ditempel pada kertas herbarium dengan pita perekat atau dengan solasi bening, diberi etiket tempel (meliputi familia, genus, spesies, nama daerah, tanggal pengambilan) dan diberi etiket gantung dengan ukuran 3 cm x 7 cm ditulis nomor / kode / tanggal pengambilan. Penulisan etiket dilakukan menggunakan pensil, selanjutnya ditutup dengan plastik kaca dan diberi perekat dengan menggunakan lakban.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pueraria triloba
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil herbarium Pueraria triloba sebagai berikut.
Gambar 1. Herbarium Pueraria triloba
Herbarium yang dilakukan pada praktikum ilmu hijauan makanan ternak menggunakan tanaman Pueraria triloba. Pueraria triloba merupakan tanaman legume yang lebih dikenal dengan nama kacang Kudzu. Kudzu (Pueraria triloba) merupakan tanaman yang termasuk dalam family leguminocae (kacang-kacangan), subfamili Faboideae, ordo Phaseoleae dan subordo Glycinnnae/Papilionaceaee. Beberapa spesies tanaman Kudzu yang dikenal antara lain Pueraria phaseoloides, Pueraria thunbergiana dan Pueraria javanica. Kudzu merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan sekarang telah tumbuh dan tersebar luas di negara-negara tropis (Skerman, 1977).
Sistematika tanaman legume Pueraria triloba sebagai berikut, kingdom plantae, plantae adalah organisme eukariotik multiseluler yang memiliki dinding sel dan klorofil. Subkingdom tracheobionta, tracheobionta merupakan tumbuhan berpembuluh. super divisi spermatophyte, spermatophyte merupakan tumbuhan berbiji karena menghasilkan biji. Divisi magnoliophyta, magnoliophyta merupakan tumbuhan dengan biji tertutup, sudah ada bunga sesungguhnya dan daun yang bervariasi baik bentuk, ukuran dan bentuk pertulangan. Kelas magnoliopsida, magnoliopsida merupakan tumbuhan berdaun lembaga dua atau tumbuhan dikotil. Sub kelas rosidae, rosidae adalah dikotiledon dengan polen binukleat atau kadang-kadang trinukleat. Ordo fabales, fabales adalah salah satu bangsa tumbuhan berbunga. Family fabaceae, fabaceae adalah suku polong-polongan atau salah satu suku tumbuhan dikotil yang terpenting dan terbesar. Subfamily papilonaceae, papilonaceae adalah nama suku untuk tumbuhan yang berbunga kupu-kupu. Genus pueraria, pueraria adalah tanaman sejenis umbi-umbian.
Tanaman Kudzu di beberapa negara tropis telah dimanfaatkan dan dibudidayakan sebagai pencegah erosi, obat-obatan, penutup tanah, pakan ternak, pupuk hijau, serta seratnya telah dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, tali dan kertas. Bagian umbi, daun dan bunga dapat diolah menjadi makanan. Akar dan bunganya mengandung zat daidzin yang dapat digunakan sebagai perlakuan terhadap ketergantungan alkohol. Selain itu juga Kudzu mengandung berbagai zat yang berfungsi sebagai antidote, antiemetic, antipyretic, antispasmodic, mencegah iritasi, diaphoretic, febrifuge, hypoglycaemic dan hypotensive. Ramuan bunga dan umbinya juga digunakan untuk meredakan demam, diare, disentri, gangguan pencernaan juga migrain dan anginga pectoris (nyeri dada akibat otot jantung kekurangan suplai darah atau oksigen). Tanaman Kudzu di Jepang digunakan untuk membuat lotion, sabun dan kompos. Tanaman Kudzu di Indonesia yaitu P. javanica atau P. phaseoloides yang telah ditanam sejak lama di kebun-kebun sebagai penutup tanah, fiksasi nitrogen atau pakan ternak, dan fungsi lainnya sebagai obat atau serat belum banyak diketahui (Valentim & Andrade 2005).       
Kudzu merupakan tanamanan asli dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan dan tersebar luas di negara-negara tropis (Skerman, 1977). Handayani, (2006) menyatakan bahwa tanaman Kudzu dibeberapa negara dikenal dengan nama puero (Australia), Japanese arowwroot (Fhilipina), phakpeetpe di Thailand dan di negara-negara tropis lain dikenal dengan nama tropical Kudzu. Pucuk ditumbuhi rambut halus berwarna coklat memiliki daun cukup besar berwarna hijau dan trifoliate dengan bunga berwarna keungu-unguan. Kudzu tumbuh di daerah tropis dengan musim penghujan yang cukup panjang dengan curah hujan minimal 1200-1500 mm. Tanaman Kudzu dapat tumbuh di daerah bermusim dingin namun akan menggugurkan daunnya apabila suhu di bawah 10o C. Tanaman ini tumbuh pada tanah liat yang subur terutama pada tanah liat aluvial. Tanaman masih dapat tumbuh pada pH di bawah 5. Kudzu merupakan tanaman merambat, memiliki batang berwarna hijau dan berkayu yang ditumbuhi rambut halus. Panjang batang utama dapat tumbuh mencapai 5 sampai 6 m dengan diameter + 0.6 cm. Perakaran tanaman Kudzu kuat dan cukup dalam, pada akar terdapat noda yang menghasilkan batang-batang.
Akar (umbi) tanaman Kudzu telah dimanfaatkan sebagai obat penyakit influenza, disentri dan diarrhoea. Kandungan pati pada umbinya telah digunakan di negara Cina, Papua New Guinea dan Jepang sebagai bahan pembuat mie dan saus. Daun tanaman Kudzu dapat dijadikan komponen pakan ternak yang dicampur dengan rumput. Selain itu tanaman Kudzu dapat dijadikan sebagai cover crops di perkebunan karet dan kelapa sawit untuk mencegah erosi tanah, menurunkan suhu tanah pada saat kemarau dan juga mampu mengikat unsur Nitrogen (N) yang dibutuhkan tanaman lain. Pemanfaatan tanaman Kudzu di Indonesia saat ini sudah mulai berkembang terutama pemanfaatan serat yang berasal dari batang tanaman. Batang tanaman Kudzu mengandung serat dan dapat digolongkan sebagai serat lunak. Kandungan nutrisi Kudzu hampir seperti alfafa dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Bagian tanaman yang hijau pada Kudzu terdapat 14.5-20 % protein, 2-3.5 % lemak, 27-36 % serat dan 7 - 8.5 % abu dari berat kering (Skerman,1977).
Serat tersebut telah digunakan oleh para pengrajin untuk membuat benda-benda kerajinan dan kain. Serat yang berasal dari batang tanaman Kudzu merupakan sumber penghasil serat alami baru yang dapat dimanfaatkan selain tanaman penghasil serat lunak lain seperti, linen, rami, kenaf, jute dan lainnya. Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu teknologi serta metode untuk memisahkan serat yang berasal dari batang tanaman Kudzu, dimana metode yang dilakukan dapat memisahkan serat dengan cepat dan mudah serta menghasilkan serat dengan kualitas yang baik (Dana, et al., 2012).
Pembuatan Herbarium
Herbarium dapat dibuat dalam bentuk kering atau basah. Herbarium yang dibuat pada saat praktikum merupakan bentuk dari herbarium kering. Herbarium kering pada saat praktikum dibuat dengan cara mengangin-anginkan tanaman selama 14 hari yang sebelumnya telah ditata rapi dan direkatkan diatas koran. Rugayah et al. ( 2004) mengatakan bahwa, fungsi kertas koran selain sebagai media pengepresan juga sebagai sarana penyerapan air dari keseluruhan bagian tanaman. Tanaman herbarium yang telah kering kemudian disusun pada kertas manila putih dan dilengkapi dengan etiket tempel dan gantung. Etiket tempel berfungsi untuk mencantumkan identitas tanaman secara lengkap mulai dari taksonomi, waktu dan keadaan tanaman saat diambil, sampai fungsi dari tanaman tersebut. Etiket gantung berfungsi untuk mempermudah pencarian herbarium karena berisikan data tanaman secara singkat.
Herbarium yang dibuat pada saat praktikum termasuk herbarium fertil karena bagian-bagian dari tanaman yang digunakan lengkap yaitu bagian vegetatif seperti akar, batang, daun, dan bagian generatif seperti bunga dan biji. Praktikum yang dilakukan teknik herbarium yang digunakan adalah herbarium kering yaitu herbarium yang cara pengawetannya dangan cara dikeringkan. Triharto (1996) menyatakan bahwa Herbarium kering biasanya dilakukan dengan sinar matahari, kecuali bila ada pertimbangan-pertimbangan lain misalnya keadaan cuaca atau pada musim penghujan, pengeringan tidak dapat berlangsung cepat sehingga bahan yang dikeringkan kadang-kadang terganggu oleh jamur.
Proses pembuatan herbarium selanjutnya adalah penyimpanan tanaman Pueraria triloba yang telah terbungkus koran ke dalam lemari sampai tanaman menjadi awet atau ditempatkan dirumah dengan tidak terkena matahari langsung. Waktu yang dibutuhkan untuk tahap pengawetan adalah selama 2 minggu penyimpanan. Pueraria triloba diambil untuk segera diproses menjadi herbarium. Tanaman Pueraria triloba yang digunakan dalam proses pembuatan herbarium adalah tanaman Pueraria triloba yang telah diawetkan dan keringkan diletakkan pada kertas koran dan disusun secara rapi. Bagian dari tanaman Pueraria triloba yang panjang dan tidak dapat ditampung pada kertas koran, dipotong dan dilakukan penyambungan pada bagian daun bekas pemotongan tadi. Kemudian bagian-bagian tanaman tersebut disusun secara rapi dan diselotip agar tidak bergeser. Pemasangan etiket tempel tanaman meliputi familia tanaman, spesies tanaman, tanggal pengambilan tanaman, dan nama umum tanaman yang digunakan.
Perlakuan herbarium diawali dengan mengepres tanaman agar kering dan mudah ditata dengan menggunakan kertas koran yang digapit dengan potongan bambu dan diikat dengan tali rafia. Rugayah et al., (2004) menyatakan bahwa fungsi kertas koran selain sebagai media pengepresan juga sebagai sarana penyerapan air dari keseluruhan bagian tanaman. Herbarium disimpan selama dua minggu. Sebelum dilakukan pembuatan herbarium, tanaman Pueraria triloba tersebut dikeringkan sebelum digunakan untuk praktikum herbarium. Tujuan dari pengeringan ini adalah agar kadar air yang ada pada tanaman tersebut hilang sehingga tanaman menjadi layu (tidak kaku). Syamsuri (2006) menyatakan bahwa hal yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan adalah lingkungan yang udaranya lembab maka spesimen harus dijemur di bawah terik matahari atau di dekat api dan secara periodik. Kertas koran yang basah atau lembab diganti dengan yang kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan berulang kali. Spesimen tidak dijemur dengan membuka kertas koran yang menutupinya dan jangan menjemur spesimen terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu cepat hasilnya kurang baik. Berdasarkan hasil praktikum setelah dibandingkan dengan literatur, fungsi perlakuan yang dilakukan sudah sesuai degan literatur.




KESIMPULAN
Berdasarkan pratikum herbarium disimpulkan bahwa herbarium merupakan suatu koleksi tumbuhan atau bagian tumbuhan yang diawetkan, yang akan digunakan untuk mempelajari taksonomi  tumbuhan. Proses pembuatan herbarium Pueraria triloba dilakukan proses pengeringan terlebih dahulu baru dibuat herbarium pada kertas herbarium, selanjutnya diberi identifikasi dan selanjutnya ditutup dengan plastik mika.



DAFTAR PUSTAKA
Bebbera, D. P., Mark A. Carineb , John R. I. Woodc , Alexandra H. Wortleyd , David J. Harrisd , Ghillean T. Prancee , Gerrit Davidsef , Jay Paigef , Terry D. Penningtone , Norman K. B. Robsonb , and Robert W. Scotlandc. 2010. Herbaria are a major frontier for species discovery.  University of California. USA.Horne, P.M., dan W.W. Stur. 2004. Mengembangkan teknologi hijauan makanan ternak (HMT) bersama petani kecil. Monograf ACIAR No. 65.
Onrizal. 2005. Teknik Pembuatan Herbarium. Jurusan KehutananFakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Ramadhanil and Robert, G. 2004. Herbarium celebense (ceb) dan peranannya dalam menunjang penelitian taksonomi tumbuhan di Sulawesi. Universitas Tadulako, Palu.
Rugayah, Retnowati, A., Windadri, F.I., dan A. Hidayat. 2004. Pedoman Pengumpulan Data Keanakaragaman Flora. Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Jakarta.
Sama, Surya. 2009. Pengawetan Tanaman dan Pengawetan Hewan. UPI, Bandung.
Skerman, P.J. 1977. Tropical Forage Legumes. Food and Agricultural Organization of United Nation, Rome.
Sutrisna, U. T. Kalima Dan Purnadjaja. 1998. Pedoman Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia Yayasan ROSA Bogor dan pusat Diklat Pegawai Dan SDM Kehutanan. Bogor.
Syabana,  D.A., Yudi S. Retno W.  2012.  Pengolahan Bahan Baku Serat Kudzu Untuk Kerajinan. Kementerian Perindustrian  RI Badan Pengkajian, Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri. Yogyakarta.
Syamsuri, I. 2006. IPA Biologi. Erlangga. Jakarta.
Triharto, Ahmad. 1996. Dasar-dasar perlindungan Tanaman. UGM press : Yogyakarta.
Valentim JF, Andrade CM. 2005. Tropical Kudzu (Pueraria phaseoloides): successful adoption in sustainable caĴ le production systems in the western Brazilian Amazon. Tropical Grasslands 38: 222–223
Wibowo, A. dan M. Abdulah. 2007. Desain XML sebagai mekanisme pertukaran data dalam herbarium virtual. Jurnal Matematika Vol. 10, No.2, Agustus 2007:51-55 , ISSN: 1410-8518.
Handayani, Y. 2006. Proses pemisahan serat tanaman Kudzu melalui fermentasi dengan penambahan mikroba. Fakultas teknologi pertanian Institut pertanian bogor. Bogor.

No comments:

Post a Comment