LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU HIJAUAN MAKANAN TERNAK
Acara
Herbarium
Disusun oleh:
Kelompok XI
Miftachul Huda
Fitria Febriansyah
Veronika Yusvita
Anggun Nurul Arifiana
Muhammad Setio Budi
|
13/346272/PT/06484
14/362619/PT/06661
14/368238/PT/06849
14/368273/PT/06864
14/368301/PT/06865
|
Asisten Pendamping: Aditya
Bayu Pratama
LABORATORIUM HIJAUAN MAKANAN TERNAK DAN PASTURA
DEPARTEMEN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2016
BAB I
HERBARIUM
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi Herbarium
Herbarium berasal dari
kata “hortus” dan “botanicus”. Hortus dan botanicus adalah kebun botani yang dikeringkan secara
sederhana. Herbarium adalah koleksi spesimen yang telah dikeringkan, biasanya
disusun berdasarkan sistem klasifikasi. Manfaat herbarium adalah untuk
pengenalan dan identifikasi jenis-jenis tumbuhan, material peraga pelajaran
botani, material penelitian, alat pembantu identifikasi tanaman, material
pertukaran antar herbarium diseluruh dunia, bukti keanekaragaman (Sama, 2009).
Herbarium adalah suatu
bahan yang digunakan untuk studi taksonomi yang berupa tumbuhan segar yang
masih hidup, tetapi biasanya berupa bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan
diawetkan dengan metode tertentu. Wibowo dan Abdulah (2007) menyatakan bahwa
herbarium merupakan suatu spesimen dari bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan
diawetkan melalui metode tertentu. Herbarium biasanya dilengkapi dengan
data-data mengenai tumbuhan yang diawetkan, baik data taksonomi, morfologi,
ekologi, maupun geografinya. Selain itu dalam herbarium juga memuat waktu dan
nama pengkoleksi. Bebbera et al., (2010)
menyatakan bahwa herbarium juga bermanfaat untuk mengumpulkan, mengakui,
menggambarkan, dan menyimpan penemuan spesies tanaman baru dengan menggunakan
data kuantitatif.
Herbarium merupakan istilah yang pertama kali digunakan oleh Turnefor pada tahun 1700 untuk
tumbuhan obat yang dikeringkan sebagai koleksi. Luca Ghini pada tahun 1490
sampai 1550 seorang Professor Botani di Universitas Bologna, Italia adalah orang
pertama yang mengeringkan tumbuhan di bawah tekanan dan melekatkannya di atas
kertas serta mencatatnya sebagai koleksi ilmiah (Ramadanil, 2004).
Manfaat Herbarium
Herbarium berguna sebagai penyedia data asli dari suatu tanaman yang telah
diidentifikasi atau bisa juga disebut museum tanaman. Herbarium penting untuk
mempelajari taksonomi tumbuhan, mempelajari distribusi geografisnya dan
stabilitas nomenclatusnya. Peneliti tidak hanya menyimpannya, tetapi juga
meneliti tanaman tersebut, yang biasanya digunakan untuk materi referensi dalam
menyusun taksonomi (Sutrisna et al., 1998).
Cara Pembuatan Herbarium
Pembuatan herbarium
dimulai dengan mengumpulkan material herbarium yang diambil, terutama
identifikasi dan dokumentasi. Identifikasi tanaman diperlukan ranting, daun,
kuncup, kadang-kadang bunga dan buah dalam satu kesatuan. Material herbarium
yang lengkap mengandung ranting daun muda dan tua, kuncup bunga, bunga tua dan
muda yang sudah mekar, serta buah muda dan tua, material herbarium dengan bunga
dan buah disebut herbarium fertil, sedangkan material herbarium tanpa bunga dan
biji disebut material herbarium yang steril. Material herbarium harus lengkap,
perlu diperhatikan pula pada saat pengambilan material herbarium harus
dilakukan pula pencatatan data tumbuhannya, terutama karakteristik atau sifat
yang hilang jika material tersebut diawetkan. Material herbarium tanpa catatan
tumbuhan dianggap tidak berguna. Pengawetan dan pencatatan data tumbuhan dengan
menggunakan buku catatan atau blangko isian (Rugayah et al., 2004).
Herbarium dibagi menjadi dua, yaitu herbarium
basah dan herbarium kering. Herbarium basah, setelah
material herbarium diberi label gantung dan dirapikan, kemudian dimasukkan ke
dalam lipatan kertas koran. Selanjutnya, lipatan kertas koran berisi material
herbarium tersebut ditumpuk satu diatas lainnya. Tumpukkan tersebut dimasukkan
ke dalam kantong plastik dan disiram alcohol
70 % atau spiritus hingga seluruh bagian tumbukan tersiram secara merata,
kemudian kantong plastik ditutup rapat dengan isolatip atau hekter supaya
alkohol atau spiritus tidak menguap keluar dari kantong plastik (Onrizal,
2005). Herbarium
kering, pengeringan dilakukan dengan melalui 2 proses, yaitu pengeringan
langsung dan pengeringan secara bertahap. Pengeringan langsung dilakukan dengan
tumpukan material herbarium yang tidak terlalu tebal dipres di dalam sasak,
kemudian dilurungkan di atas tungku pengeringan dengan panas yang diatur dalam
oven (suhu 80°C selama 48 jam), pengeringan harus dilakukan segera agar
material herbarium tidak rontok dan daunnya menjadi busuk. Pengeringan secara
bertahap, yakni material dicelup di
dalam air mendidih selama 3 menit, kemudian dirapikan dan dimasukkan ke dalam
lipatan kertas koran, selanjutnya ditumpuk dan dipres, dan dijemur di atas
tungku pengeringan. Material herbarium yang telah kering kemudian ditata dan
diganti alas kertas yang baru dan diberi etiket gantung (Sutrisna et al.,
1998).
MATERI DAN METODE
Materi
Alat. Alat yang digunakan pada praktikum herbarium adalah
Bambu (panjang 1 m dan lebar 5 cm) 8 buah, lakban, solasi bening, tali rafia,
gunting, kertas koran, sabit, steples, spidol board maker, kamera, etiket
tempel dan gantung, pensil, kertas herbarium, dan plastik kaca
Bahan. Bahan
yang digunakan pada acara praktikum herbarium adalah tanaman legum, yaitu Pueraria Triloba dengan bagian-bagiannya
yang lengkap, yaitu akar, batang, daun, bunga, dan buah atau biji.
Metode
Metode yang digunakan
dalam praktikum herbarium adalah dengan metode kering. Tanaman yang
digunakan berupa tanaman
legum yaitu Pueraria triloba, diambil
dari lahan Hijauan
Makanan Ternak, Fakultas Peternakan, Universitas Gadjah Mada. Bagian
tanaman yang diambil lengkap yakni mengandung
akar, batang, daun, dan bunga. Herbarium dikeringkan dan
diatur dalam kertas yang kasar dan kering yang dapat menyerap air yaitu berupa
kertas koran. Kertas koran disusun berlapis-lapis (7 lapis bagian bawah dan 7 lapis
bagian atas mengapit tanaman) kemudian ditekan mengunakan bambu dengan cara megikatkan
tali rafia ditepi-tepi kertas. Selanjutnya
tanaman Pueraria triloba dibiarkan sampai
kering selama dua minggu.
Tanaman Pueraria triloba setelah
dua minggu diambil dan dibuka pembungkus korannya. Tanaman ditempel pada kertas
herbarium dengan pita perekat atau dengan solasi bening, diberi etiket tempel
(meliputi familia, genus, spesies,
nama daerah, tanggal pengambilan) dan diberi etiket gantung dengan ukuran 3 cm
x 7 cm ditulis nomor / kode / tanggal pengambilan. Penulisan etiket dilakukan menggunakan pensil,
selanjutnya ditutup dengan plastik kaca dan diberi perekat dengan menggunakan
lakban.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pueraria
triloba
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil herbarium Pueraria
triloba sebagai berikut.
Gambar 1.
Herbarium Pueraria triloba
Herbarium yang dilakukan
pada praktikum ilmu hijauan makanan ternak menggunakan tanaman Pueraria triloba. Pueraria triloba merupakan tanaman legume yang lebih dikenal dengan nama kacang Kudzu. Kudzu (Pueraria triloba) merupakan tanaman yang
termasuk dalam family leguminocae
(kacang-kacangan), subfamili Faboideae,
ordo Phaseoleae dan subordo Glycinnnae/Papilionaceaee. Beberapa
spesies tanaman Kudzu yang dikenal antara lain Pueraria phaseoloides, Pueraria
thunbergiana dan Pueraria javanica.
Kudzu merupakan tanaman asli dari Asia Tenggara seperti Malaysia, Indonesia dan
sekarang telah tumbuh dan tersebar luas di negara-negara tropis (Skerman,
1977).
Sistematika tanaman legume Pueraria triloba sebagai berikut,
kingdom plantae, plantae adalah
organisme eukariotik multiseluler yang memiliki
dinding sel dan klorofil. Subkingdom tracheobionta, tracheobionta
merupakan tumbuhan berpembuluh. super divisi spermatophyte, spermatophyte merupakan tumbuhan
berbiji karena menghasilkan biji. Divisi magnoliophyta, magnoliophyta
merupakan tumbuhan
dengan biji tertutup, sudah ada bunga sesungguhnya dan daun yang bervariasi
baik bentuk, ukuran dan bentuk pertulangan. Kelas magnoliopsida,
magnoliopsida merupakan tumbuhan berdaun lembaga dua atau tumbuhan dikotil. Sub
kelas rosidae, rosidae adalah dikotiledon dengan polen binukleat atau kadang-kadang trinukleat.
Ordo fabales, fabales adalah salah satu bangsa tumbuhan berbunga. Family fabaceae,
fabaceae adalah suku polong-polongan atau salah satu suku tumbuhan dikotil yang
terpenting dan terbesar. Subfamily
papilonaceae, papilonaceae adalah nama suku untuk
tumbuhan yang berbunga kupu-kupu. Genus pueraria, pueraria adalah tanaman sejenis
umbi-umbian.
Tanaman Kudzu di beberapa negara tropis telah dimanfaatkan dan
dibudidayakan sebagai pencegah erosi, obat-obatan, penutup tanah, pakan ternak,
pupuk hijau, serta seratnya telah dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan, tali
dan kertas. Bagian umbi, daun dan bunga dapat diolah menjadi makanan. Akar dan
bunganya mengandung zat daidzin yang dapat digunakan sebagai perlakuan
terhadap ketergantungan alkohol. Selain itu juga Kudzu mengandung berbagai zat
yang berfungsi sebagai antidote, antiemetic, antipyretic, antispasmodic,
mencegah iritasi, diaphoretic, febrifuge, hypoglycaemic dan
hypotensive. Ramuan bunga dan umbinya juga digunakan untuk meredakan
demam, diare, disentri, gangguan pencernaan juga migrain dan anginga
pectoris (nyeri dada akibat otot jantung kekurangan suplai darah atau
oksigen). Tanaman Kudzu di Jepang digunakan untuk membuat lotion, sabun dan
kompos. Tanaman Kudzu di Indonesia yaitu P. javanica atau P.
phaseoloides yang telah ditanam sejak lama di kebun-kebun sebagai penutup
tanah, fiksasi nitrogen atau pakan ternak, dan fungsi lainnya sebagai obat atau
serat belum banyak diketahui (Valentim & Andrade 2005).
Kudzu merupakan tanamanan asli dari Asia Tenggara
seperti Malaysia, Indonesia dan dan tersebar luas di negara-negara tropis
(Skerman, 1977). Handayani, (2006) menyatakan bahwa tanaman Kudzu dibeberapa
negara dikenal dengan nama puero (Australia), Japanese arowwroot (Fhilipina),
phakpeetpe di Thailand dan di negara-negara tropis lain dikenal dengan
nama tropical Kudzu. Pucuk ditumbuhi rambut halus berwarna coklat
memiliki daun cukup besar berwarna hijau dan trifoliate dengan bunga
berwarna keungu-unguan. Kudzu tumbuh di daerah tropis dengan musim penghujan
yang cukup panjang dengan curah hujan minimal 1200-1500 mm. Tanaman Kudzu dapat
tumbuh di daerah bermusim dingin namun akan menggugurkan daunnya apabila suhu
di bawah 10o
C. Tanaman ini tumbuh pada tanah liat yang subur terutama pada
tanah liat aluvial. Tanaman masih dapat tumbuh pada pH di bawah 5. Kudzu
merupakan tanaman merambat, memiliki batang berwarna hijau dan berkayu yang
ditumbuhi rambut halus. Panjang batang utama dapat tumbuh mencapai 5 sampai 6 m
dengan diameter + 0.6 cm. Perakaran tanaman Kudzu kuat dan cukup dalam,
pada akar terdapat noda yang menghasilkan batang-batang.
Akar (umbi) tanaman Kudzu
telah dimanfaatkan sebagai obat penyakit influenza, disentri dan diarrhoea.
Kandungan pati pada umbinya telah digunakan di negara Cina, Papua New Guinea dan Jepang sebagai
bahan pembuat mie dan saus. Daun tanaman Kudzu dapat dijadikan komponen pakan ternak
yang dicampur dengan rumput. Selain itu tanaman Kudzu dapat dijadikan sebagai cover crops di perkebunan karet dan
kelapa sawit untuk mencegah erosi tanah, menurunkan suhu tanah pada saat
kemarau dan juga mampu mengikat unsur Nitrogen (N) yang dibutuhkan tanaman
lain. Pemanfaatan tanaman Kudzu di Indonesia saat ini sudah mulai berkembang
terutama pemanfaatan serat yang berasal dari batang tanaman. Batang tanaman Kudzu
mengandung serat dan dapat digolongkan sebagai serat lunak. Kandungan nutrisi Kudzu
hampir seperti alfafa dan dapat dikonsumsi oleh manusia. Bagian tanaman yang
hijau pada Kudzu terdapat 14.5-20 % protein, 2-3.5 % lemak, 27-36 % serat dan 7
- 8.5 % abu dari berat kering (Skerman,1977).
Serat tersebut telah digunakan oleh para pengrajin untuk membuat
benda-benda kerajinan dan kain. Serat yang berasal dari batang tanaman Kudzu
merupakan sumber penghasil serat alami baru yang dapat dimanfaatkan selain
tanaman penghasil serat lunak lain seperti, linen, rami, kenaf, jute dan
lainnya. Berdasarkan hal tersebut diperlukan suatu teknologi serta metode untuk
memisahkan serat yang berasal dari batang tanaman Kudzu, dimana metode yang
dilakukan dapat memisahkan serat dengan cepat dan mudah serta menghasilkan
serat dengan kualitas yang baik (Dana, et
al., 2012).
Pembuatan Herbarium
Herbarium dapat dibuat dalam bentuk kering atau basah. Herbarium yang
dibuat pada saat praktikum merupakan bentuk dari herbarium kering. Herbarium
kering pada saat praktikum dibuat dengan cara mengangin-anginkan tanaman selama
14 hari yang sebelumnya telah ditata rapi dan direkatkan diatas koran. Rugayah et
al. ( 2004) mengatakan bahwa, fungsi kertas koran selain sebagai media
pengepresan juga sebagai sarana penyerapan air dari keseluruhan bagian tanaman.
Tanaman herbarium yang telah kering kemudian disusun pada kertas manila putih
dan dilengkapi dengan etiket tempel dan gantung. Etiket tempel berfungsi untuk
mencantumkan identitas tanaman secara lengkap mulai dari taksonomi, waktu dan
keadaan tanaman saat diambil, sampai fungsi dari tanaman tersebut. Etiket
gantung berfungsi untuk mempermudah pencarian herbarium karena berisikan data
tanaman secara singkat.
Herbarium yang dibuat pada saat praktikum termasuk herbarium fertil karena
bagian-bagian dari tanaman yang digunakan lengkap yaitu bagian vegetatif
seperti akar, batang, daun, dan bagian generatif seperti bunga dan biji. Praktikum yang dilakukan teknik
herbarium yang digunakan adalah herbarium kering yaitu herbarium yang cara
pengawetannya dangan cara dikeringkan. Triharto (1996) menyatakan bahwa
Herbarium kering biasanya dilakukan dengan sinar matahari, kecuali bila ada
pertimbangan-pertimbangan lain misalnya keadaan cuaca atau pada musim
penghujan, pengeringan tidak dapat berlangsung cepat sehingga bahan yang
dikeringkan kadang-kadang terganggu oleh jamur.
Proses pembuatan herbarium
selanjutnya adalah penyimpanan tanaman Pueraria
triloba yang telah terbungkus koran ke dalam lemari sampai tanaman menjadi
awet atau ditempatkan dirumah dengan tidak terkena matahari langsung. Waktu
yang dibutuhkan untuk tahap pengawetan adalah selama 2 minggu penyimpanan. Pueraria triloba diambil untuk segera
diproses menjadi herbarium. Tanaman
Pueraria triloba yang
digunakan dalam proses pembuatan herbarium adalah tanaman Pueraria triloba yang telah
diawetkan dan
keringkan
diletakkan pada kertas koran dan
disusun secara rapi. Bagian dari tanaman Pueraria triloba yang
panjang dan tidak dapat ditampung pada kertas koran, dipotong dan dilakukan penyambungan pada bagian daun
bekas pemotongan tadi. Kemudian bagian-bagian tanaman tersebut disusun secara
rapi dan diselotip agar tidak bergeser.
Pemasangan etiket tempel tanaman meliputi familia tanaman, spesies tanaman, tanggal pengambilan
tanaman, dan nama umum tanaman
yang digunakan.
Perlakuan
herbarium diawali dengan mengepres tanaman agar kering dan mudah ditata dengan
menggunakan kertas koran yang digapit dengan potongan bambu dan diikat dengan
tali rafia. Rugayah et
al., (2004) menyatakan bahwa fungsi kertas
koran selain sebagai media pengepresan juga sebagai sarana penyerapan air dari
keseluruhan bagian tanaman. Herbarium disimpan selama dua minggu. Sebelum dilakukan
pembuatan herbarium,
tanaman Pueraria
triloba tersebut dikeringkan sebelum digunakan untuk praktikum
herbarium. Tujuan dari pengeringan ini adalah agar kadar air yang ada pada
tanaman tersebut hilang sehingga tanaman menjadi layu (tidak kaku). Syamsuri (2006) menyatakan bahwa hal
yang perlu diperhatikan dalam penyimpanan adalah lingkungan yang udaranya
lembab maka spesimen harus dijemur di bawah terik matahari atau di dekat api
dan secara periodik. Kertas koran yang basah atau lembab diganti dengan yang
kering beberapa kali. Kertas yang lembab dapat dijemur untuk digunakan berulang
kali. Spesimen tidak dijemur dengan membuka kertas koran yang menutupinya dan
jangan menjemur spesimen terlalu lama sebab proses pengeringan yang terlalu
cepat hasilnya kurang baik. Berdasarkan hasil praktikum setelah dibandingkan
dengan literatur, fungsi perlakuan yang dilakukan sudah sesuai degan literatur.
KESIMPULAN
Berdasarkan pratikum
herbarium disimpulkan bahwa herbarium merupakan suatu koleksi tumbuhan atau
bagian tumbuhan yang diawetkan, yang akan digunakan untuk mempelajari
taksonomi tumbuhan. Proses pembuatan
herbarium Pueraria triloba dilakukan
proses pengeringan terlebih dahulu baru dibuat herbarium pada kertas herbarium,
selanjutnya diberi identifikasi dan selanjutnya ditutup dengan plastik mika.
DAFTAR
PUSTAKA
Bebbera,
D. P., Mark A. Carineb , John R. I. Woodc , Alexandra H. Wortleyd , David J.
Harrisd , Ghillean T. Prancee , Gerrit Davidsef , Jay Paigef , Terry D.
Penningtone , Norman K. B. Robsonb , and Robert W. Scotlandc. 2010. Herbaria
are a major frontier for species discovery.
University of California. USA.Horne, P.M., dan W.W. Stur. 2004. Mengembangkan
teknologi hijauan makanan ternak (HMT) bersama petani kecil. Monograf ACIAR No.
65.
Onrizal.
2005. Teknik Pembuatan Herbarium. Jurusan KehutananFakultas Pertanian.
Universitas Sumatera Utara. Sumatera Utara.
Ramadhanil and Robert, G.
2004. Herbarium celebense (ceb) dan peranannya dalam menunjang penelitian
taksonomi tumbuhan di Sulawesi. Universitas Tadulako, Palu.
Rugayah,
Retnowati, A., Windadri, F.I., dan A. Hidayat. 2004. Pedoman Pengumpulan Data
Keanakaragaman Flora. Pusat Penelitian Biologi-Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia. Jakarta.
Sama,
Surya. 2009. Pengawetan Tanaman dan
Pengawetan Hewan. UPI, Bandung.
Skerman, P.J. 1977. Tropical Forage Legumes. Food and Agricultural
Organization of United Nation, Rome.
Sutrisna, U. T. Kalima Dan Purnadjaja. 1998. Pedoman
Pengenalan Pohon Hutan di Indonesia Yayasan ROSA Bogor dan pusat Diklat Pegawai
Dan SDM Kehutanan. Bogor.
Syabana, D.A., Yudi
S. Retno W. 2012. Pengolahan Bahan Baku Serat Kudzu
Untuk Kerajinan. Kementerian
Perindustrian RI Badan Pengkajian,
Kebijakan, Iklim dan Mutu Industri. Yogyakarta.
Syamsuri, I. 2006. IPA Biologi. Erlangga. Jakarta.
Triharto,
Ahmad. 1996. Dasar-dasar perlindungan Tanaman. UGM press : Yogyakarta.
Valentim JF, Andrade CM. 2005. Tropical Kudzu
(Pueraria phaseoloides): successful adoption in sustainable caĴ le production
systems in the western Brazilian
Amazon. Tropical Grasslands 38: 222–223
Wibowo,
A. dan M. Abdulah. 2007. Desain XML sebagai
mekanisme pertukaran data dalam herbarium virtual. Jurnal Matematika Vol. 10, No.2, Agustus 2007:51-55 ,
ISSN: 1410-8518.
Handayani, Y. 2006. Proses pemisahan serat tanaman Kudzu melalui
fermentasi dengan penambahan mikroba. Fakultas teknologi pertanian Institut
pertanian bogor. Bogor.
No comments:
Post a Comment